Apa dan Bagaimana PKBL? Mei 23, 2007
Posted by dinconomy in Peluang Usaha.3 comments
Kita tahu bahwa negeri kita mempunyai sumber daya alam yang melimpah. Namun, kekayaan itu tidak bisa kita nikmati sepenuhnya. Mayoritas dari masyarakat adalah buruh bahkan banyak yang menganggur. Ada salah satu sebab, yaitu pilihan atau keadaan. Pilihan karena kita tidak mempunyai kemauan berusaha, atau keadaan di mana kita sudah berusaha namun belum berhasil. Oleh karenanya, sebagai masyarakat yang ingin maju, kalau tidak mencari pekerjaan ya menciptakan pekerjaan. Menciptakan pekerjaan inilah alternatif paling prospektif serta didukung oleh pemerintah melalui UKM.
“Indonesia, adalah sebuah paradoks negeri yang merdeka sejak 61 tahun lalu, berpenduduk 238 juta jiwa, terbesar keempat di dunia, dengan kekayaan alam yang luar biasa, namun belum menghasilkan SDM yang berkualitas. Dari ratusan juta jiwa penduduk tersebut, 19,8 juta adalah keluarga miskin. Oleh karenanya, kita sebagai BUMN, petugas yang diberi amanah untuk menyalurkan PKBL yang merupakan bagian dari corporate social responsibility bertugas dan bertanggung jawab untuk mengurangi angka pengangguran tersebut”. Begitu sambutan dari Meneg BUMN Sugiharto dalam rapat kerja PKBL antara BUMN dengan Kementerian Negara BUMN (6/10).Ada tiga kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang usahawan; modal usaha, skill berproduksi/operasi, dan pemasaran.
Bagi masyarakat yang mengalami kendala modal, dan sulitnya mengakses dana dari bank, ada satu solusi dari BUMN untuk mengembangkan UKM yaitu Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Program ini merupakan partisipasi BUMN untuk memberdayakan dan mengembangkan kondisi ekonomi, sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Program kemitraan merupakan kerjasama BUMN dengan unit usaha kecil dan menengah (UKM) untuk menjadi tangguh dan mandiri, sementara bina lingkungan merupakan bentuk kepedulian BUMN untuk pemberdayaan sosial masyarakat.
Dana Program Kemitraan (PK) diberikan dalam bentuk pinjaman untuk modal kerja, pinjaman khusus dan hibah. Dana ini bersumber dari penyisihan laba BUMN setelah pajak sebesar 1%-3% dan dari dana lain seperti jasa giro, dan bunga pinjaman. Untuk mendapatkan dana ini UKM calon mitra harus mengajukan proposal terlebih dahulu ke BUMN pelaksana terdekat. Untuk wilayah Temanggung, BUMN pelaksana ada di Semarang dan Jogjakarta. Calon mitra binaan menyampaikan rencana penggunaan dana pinjaman dalam rangka pengembangan usahanya kepada BUMN pembina.
Calon mitra binaan harus mengajukan surat permohonan pinjaman disertai rencana pengembangan usaha. Surat permohonan/proposal ini berisi:
- Kondisi perusahaan saat ini, meliputi: Data perusahaan (Badan usaha/ koperasi/perorangan/CV); Uraian Usaha: jenis usaha (perdagangan, pertanian, peternakan, kerajinan, industri, dsb., tempat usaha, dan ijin usaha (jika ada); Stuktur organisasi dan jumlah tenaga kerja; Produksi, sarana dan prasarana, bahan baku; Daerah pemasaran dan omset per bulan/tahun; Laporan Keuangan, meliputi laba rugi, neraca dan catatan.
- Bantuan yang diharapkan dan rencana pengembalian pinjaman;
- Keadaan yang diharapkan setelah mendapat bantuan;
- Rekomendasi dari instansi terkait (Dinas Pertanian atau Perindag setempat).
Setelah proposal disampaikan, pihak BUMN terkait akan melakukan evaluasi dan seleksi atas permohonan tersebut. Beberapa BUMN di wilayah Semarang dan Jogja bisa diakses di http://www.bumn.go.id
Fahrudin
Kiat Memulai Usaha Mei 23, 2007
Posted by dinconomy in Tips Usaha.add a comment
1. START WITH A DREAM
Mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan. A dream is where it all started : Pemimpilah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, cara pelayanan, jasa, ataupun ide yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata “tidak bisa” ataupun “tidak mungkin”.
2. LOVE THE PRODUCTS OR SERVICES
Cintailah Produk Anda. Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa-masa sulit. Enthusiastism and Persistence : Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda cinta dan keyakinan akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru.
3. LEARN THE BASICS OF BUSINESS
Pelajarilah fundamental business. BEYOND THE “BUY LOW, SELL HIGH, PAY LATE, COLLECT EARLY”: Tidak akan ada sukses tanpa ada sebuah pengetahuan dasar untuk business yang baik, belajar sambil bekerja, turut kerja dahulu selama 1-2 tahun untuk dapat mempelajari dasar-dasar usaha akan membantu kita untuk maju dengan lebih baik. Carilah Guru yang baik.
4. WILLING TO TAKE CALCULATED RISKS
Ambillah resiko. The Gaint that u will be able to achieve is directly proportional to the risk taken : Berani mengambil resiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap resiko yang akan diambil. Sebuah resiko yang diperhitungkan dengan baik-baik akan lebih banyak memberikan kemungkinan berhasil. Dan inilah faktor penentu yang membedakan “entrepreneur” dengan “manager”. Entrepreneur akan lebih dibutuhkan pada tahap awal pengembangan perusahaan, dan manager dibutuhkan akan mengatur perusahaan yang telah maju.
5. SEEK ADVICE, BUT FOLLOW YOUR BELIEF
Carilah nasehat dari pakarnya, tapi ikuti kata-kata kita. Consult Consultants, ask the experts, but follow your hearts. Entrepreneur selalu mencari nasehat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditangannya dan dapat diputuskan dengan indera ke enam-nya. Komunikasi yang baik dan kepiawaian menjual. Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kunci suksesnya. Dan kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengembangkan usaha pada fase itu.
6. WORK HARD, 7 DAY A WEEK, 18 HOURS A DAY
Kerja keras. Etos kerja keras sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard-work and smart-work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua successful start-up butuh workaholics. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan bussinessnya. Melamunkan dan memimpikan kerjanya.
Bisnis Rongsok, Mengapa Tidak? Mei 23, 2007
Posted by dinconomy in UKM.58 comments
Mungkin bagi sebagian orang, tumpukan kertas bekas, besi tua, atau botol kosong adalah sampah rongsokan yang harus dibuang. Tetapi, ada sebagian orang justru menggantungkan hidup mereka dari barang yang rongsok. Bahkan, rongsokan pulalah yang mengubah nasib mereka.
Seperti apa yang dilakukan oleh Muh Roni (30 tahun) warga Campursalam, Kec. Parakan. Sudah 3 tahun ini dia menjalankan bisnis jual beli rongsokan. Hasilnya pun bisa dibilang lumayan. Selain bisa mencukupi kebutuhan keluarga, Muh Roni bisa menarik beberapa warga untuk ikut bekerja bersamanya.
Setelah lulus SMA, pria dengan 2 orang anak ini disuruh orang tuanya untuk meneruskan pekerjaan mereka sebagai petani. Namun dia tidak mau “Saya dulu dipaksa orang tua untuk meneruskan tradisi mereka menjadi petani, tetapi saya wegah macul”. Keadaan ini membuat dia harus berpikir dan berjuang lebih keras sebelum memutuskan untuk berkecimpung pada bisnis ini. Pada awalnya, dengan bermodalkan uang 1,5 juta dan sebuah “montor bukaan” Muh Roni berkeliling dari desa ke desa di wilayah Kab. Temanggung untuk mencari barang rongsokan “Pada bulan pertama, saya hanya bisa memutar 500 ribu tiap hari. Yah, memamg tergolong kecil sih, karena waktu itu saya hanya ditemani oleh dua orang teman saya keliling kampung untuk mencari barang”. Usaha ini terus berkembang hingga omset perhari bisa mencapai 3 juta pada tahun pertama. Hal ini bisa dia lakukan, selain sudah mengetahui daerah/pengepul barang rongsok, dia juga harus bisa menjalin hubungan baik dengan pembeli yang ada di daerah Solo dan Surabaya.
Bagi sebagian orang, bisnis rongsok memang dianggap usaha rendahan alias prestice-nya kurang. Namun, karena keadaan kepekso dan keinginan untuk mengubah nasib yang sangat kuat bisnis apapun asalkan halal bisa ditekuni. “Pada awal saya memulai usaha ini, sempat terjadi kisruh dengan orang tua. Mereka menganggap usaha yang saya jalankan ini tidak akan berhasil.” Namun, karena sangat yakin akan peluang bisnis ini, dia mampu membuktikan bahwa yang bisa menghasilkan sumber penghidupan bukan hanya sekedar jadi petani.
Pada perjalanan usaha sampai dengan tahun ke-3, karena banyaknya pemain baru di dunia usaha ini, dia menspesialisasikan usahanya untuk penggilingan limbah dari bahan plastik. Di samping persaingan bisnis usaha ini masih sangat terbuka, risikonya sangat kecil, dan margin keuntungan yang bisa didapat lebih tinggi dari pada hanya jual beli rongsokan. Butuh tambahan modal sekitar 188 juta untuk pengembangan usaha ini antara lain untuk pembelian truk, mesin giling dan pergudangan.
Untuk urusan tenaga kerja, awalnya Muh Roni mendatangkan 3 orang dari Cepu sebagai tenaga ahli, selain itu, dia mengikutsertakan beberapa orang saudaranya untuk ikut belajar bersama mereka. Dan kini, karena telah dirasa mampu, semua tenaga kerja diambil dari masyarakat sekitar yaitu 10 orang ditambah seorang sopir. Sampai dengan saat ini, omset usaha Muh Roni mencapai 5 – 6 juta perhari dengan margin keuntungan bersih sekitar 5% atau 250 – 300 ribu perhari. “Yah, lumayan Mas, dengan usaha ini saya bisa menghidupi keluarga saya, kerabat, dan masyarakat lain di desa ini.” Begitu tutur pria berpenampilan sederhana ini kepada Stanplat.
Oh ya, dari usaha yang dijalankan ini, warga sekitar juga ikut kecipratan rejeki. Sebelum plastik digiling dan dikeringkan, Muh Roni meminta bantuan warga sekitar untuk membersihkan dan memotong tutup kepala plastik yang akan diolah. Ongkos yang dikeluarkan adalah 800 rupiah/kilogram. “Yo lumayan, tiap hari saya dan istri saya dapat 30 kg mulai dari pagi hingga sore.” Tutur Subagyo (28 th).
Saat ini memang segala bisnis dapat dijalankan, namun sebagian besar masyarakat masih belum berani berspekulasi. Pertanyaan mereka hampir sama, bagaimana pertama kali memulianya. Untuk hal ini, Suami seorang Pegawai Pemda ini menuturkan “Selain harus berani menanggung resiko, para calon usahawan atau pemula harus menguasai informasi. Kunjungilah pengusaha sukses, minta petunjuk dari meraka. Rasa senang dan optimis dengan usaha yang akan dijalani juga harus senantiasa dijaga.”
Sebagai penutup kepada Stanplat di rumahnya dia menuturkan bahwa dia juga sangat senang jika ada orang yang mau berusaha terjun di bidang usaha yang sama. Jika ada orang yang ingin meminta informasi apapun, pasti akan sangat disambut dengan baik, dan nyaris semua informasi tidak ada yang disembunyikannya. Selain itu dia sering mendambakan agar masyarakat Temanggung mampu “berusaha” meskipun tidak punya lahan pertanian, dan modal yang berlimpah.
Dia juga sangat menyayangkan warga di sekitarnya yang merantau di luar daerah, dan di sana hidup sama susahnya. “Mbok mending tetep di kampung saja to, asal dia berani dan mau berusaha, Insya Allah ada jalannya.”
Perlunya Analisis dan Kerja Nyata Mei 23, 2007
Posted by dinconomy in Makro.1 comment so far
INDONESIA, yah sebuah negara dengan seabgreg Sumber Daya Alam yang melimpah. Namun, sampai saat ini masih tergolong sebagai negara berkembang yang miskin. Sulit membayangkan bagaimana negeri dengan penduduk terbesar keempat di dunia ini bisa setara dengan negara maju lainnya. Era perdagangan bebas dunia sudah berada di depan mata, seolah hanya menjadi momok bagi Indonesia dan menjadikan negara asing sebagai raja di negeri sendiri. Jika kita tidak segera berbenah, boleh jadi kita, bangsa Indonesia, akan menjadi tamu di negeri kita sendiri. Krisis yang melanda negeri kepulauan terbesar di dunia ini harus dihentikan.
Dengan melimpahnya SDA-nya, para punggawa negeri ini hanya mengagung2kan saja “Ini loh negara Indonesia, negeri dengan sejuta kekayaan alam yang melimpah,” Siapa saja boleh mengeksplorasi, dan ironisnya semua yang datang dan berminat adalah pihak asing. Pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya bangsa sendirilah yang paling berhak mengelolanya. KITA, bukan orang lain.Pernah saya mendengar cerita dari teman saya yang bertugas mengaudit sebuah perusahaan pertambangan asing di pulau Kalimantan. Dia bercerita bahwa perusahaan tersebut menggali dan menambanga tembaga. Meskipun namanya tambang tembaga, bukan tembaga yang digeruk oleh mesin penggaruk raksasa milik perusahaan itu menggenjot, tetapi EMAS. Bukan main mirisnya temen saya itu, hingga dia tak sanggup untuk menahan air matanya. Ya, sedih memang negeri ini terus2an dibohongi oleh tikus2 asing yang sangat rakus dan tidak mengenal kemanusiaan. Asal dia bisa kaya, buat apa mikir nasib orang lain. Dan ironisnya, orang lain itu adalah KITA, bangsa Indonesia.
Jika kita kemudian ditanya, apa kita tidak punya SDM yang mumpuni untuk mengatasi semua masalah ini? Maka jawabnya adalah PUNYA. Banyak orang pintar di negeri ini. Namun, kita tidak bisa memungkiri bahwa mereka hanya mau menjadi antek tikus asing. Tidak bisa berinovasi sendiri. Kita boleh bangga dengan medali emas olimpiade fisika, kimia, atau sains lainnya. Siswa2 SMA tersebut patut kita banggakan. Namun, apakah setelah lulus, mereka mau kuliah dan kerja di Indonesia? TIDAK.
Mereka lebih memilih Nanyang Technology School di Singapura atau Perguruan Tinggi di Luar Negeri (PT-LN) lainnya. Dan yang lebih tragis lagi, setelah lulus dari PT-LN mereka tidak mau bekerja di INDONESIA, karena negara kita tidak bisa menjanjikan apa2 kepada mereka yang pintar.
Oleh karenanya, tidak ada yang salah dengan pendidikan di negeri kita ini. Yang pasti, harus ada reward khusus kepada mereka yang pintar. Jangan biarkan pihak asing terus menggerogoti kekayaan alam kita. Dan jangan biarkan pula SDM2 unggul kita dimanfaatkan oleh negara asing. Boleh dikatakan, SDA dan SDM kita sekarang telah dikuasai negara asing. Hendaknya, pemerintah sadar akan hal ini. Buat kebijakan baru yang pro dalam negeri. Setelah itu, baru kita realisasikan dengan KERJA NYATA, bukan hanya rencana2 yang muluk2 saja, angan2, apalagi hanya sebuah KLANGENAN.