Budidaya Kelinci Australia Mei 23, 2008
Posted by dinconomy in UKM.trackback
Flu burung merajelela. Kalau kita nekad usaha unggas tentu rawan bangkrut. Karena itu kalau mau usaha ternak carilah peliharaan yang minim resiko, sedikit modal namun hasil menjanjikan. Usaha apa?
Kelinci Australia jawabnya. Apa tidak beresiko? Memang, bisnis apapun, apalagi berkaitan dengan urusahan nyawa pasti ada resiko. Tapi dibanding dengan unggas, kelinci lumayan aman. Itulah yang membuat usaha Sugiyono, 39 tahun, masih berjalan lancar. Selama 8 tahun, petani asal Janggleng Kaloran ini sudah membuktikan.
“Dulu saya ini bingung mau usaha apa. Pelihara kambing gagal, sapi gagal, jadi petani juga begitu-begitu saja. E, karena pengalaman yang saya dapat dari Bandungan Semarang, akhirnya saya bisa usaha ternak ini Mas, “tuturnya.
Apa benar usaha kelinci mampu menghidupi keluarganya? Bukankah banyak kelinci di desa-desa yang dipelihara petani toh tidak menjanjikan?
Rupanya peliharaan Sugi yang berjumlah 25 ekor itu bukan kelinci lokal, melainkan kelinci Australia. Badannya gemuk-gemuk, kulitnya tebal, tampangnya lucu, terlebih kelinci hiasnya.
Kelinci unggul ini biasa disebut Trewelu Ustrali. Jenis kelinci ini tergolong primadona baik untuk hias, pedaging, ternak maupun untuk kulitnya. Di daerah lain, seperti Bandungan Semarang, Lembang Bandung, jenis kelinci ini sudah lama dibudidayakan. Kelinci ini tergolong laris manis di pasar untuk berbagai kebutuhan, seperti hias, sate, atau bahkan sebatas kebutuhan bulunya untuk Jaket, Sandal, Tas dll.
Harga di pasaran Temanggung tergolong murah. Untuk usia 35 hari, alias selesai sapih hanya Rp 10.000. Kelinci ini biasanya dibeli oleh para peternak untuk dibesarkan. Tapi resiko kematian cukup tinggi mengingat kelinci tergolong hewan manja, yang tidak gampang lepas induknya. Untuk mencapai harga bagus biasanya peternak seperti Sugi memelihara sampai umur 3 bulan dengan harga Rp 80 ribuan. Sedangkan yang berumur 6 bulan, dijual Rp 150.0000.
Harga itu tergolong murah. Beberapa minggu lalu, saat penulis datang ke Kawasan ternak kelinci di Lembang Bandung, harga kelinci sehat-gemuk yang dipelihara Sugi dijual dengan harga Rp 200.000, ada juga yang mencapai Rp 225.000 sampai Rp 300.000 untuk kelinci hias.
Tapi soal harga adalah urusan pasar. Bagi Sugi, yang penting usaha. Ia tidak perlu repot menjual ke kota. Cukup menunggu tamu di rumah, dagangan laris manis. Dengan 25-30 kelinci itu rata-rata ia memperoleh hasil Rp 750.000-Rp 1.200.000. “Saya yakin bisa untung lebih banyak kalau modalnya besar. Ya ini dapat segitu sudah lumayan. Maklum, modal saya kecil,” katanya.
Di daerah Kaloran pakan untuk kelinci cukup terjamin. Kalau bosan rumput bisa berganti ampas tahu atau makanan yang lain. Agar kualitas kelinci gemuk dan sehat, maka kandang harus dipisah dengan hewan lain, dan selalu bersih. Kalau kotor dan udara lembab, kelinci biasanya stres dan penyakitan. Kalau mau sukses, manjakan hewan pendiam ini dengan pakan dan suasana yang serba nyaman. Selanjutnya, disate wae….
(Faiz Manshur)

bagus tuh pak ngomong-ngomong alamat lengkapnya dimana, siapa tahu kapan=kapan bisa mampir sekedar untuk lihat-lihat,..
terima kasih
Wah, tertarik nich.. Nomer yang bisa saya hubungi dong??
top brow.saya brminat untuk itu.tapi pengaturan kandang yang sehat gmn?
maaf pak mau nanya?…kesulitan memelihara dimn?..kalo di pelihara di cikarang kira2 mendukung g?…soalnya cuaca lebih panas dibanding bandung..terus paling besar itu seberapa?..mencapai panjang berapa?……
Mau tanya,apakah kelinci australia punya lingkungan khusus.misalnya hanya bisa hidup di daerah dingin atau malah sebaliknya.sebab,di daerahku(daerah kab.demak) ada orang yang mencoba untuk ternak kelinci australia,tapi malah mati semua.tlg penjelasannya…..
Apakah di daerah Jawa Tengah,sudah ada pasar2 kelinci?atau pusat2 ternak kelinci?