jump to navigation

Tips Berbisnis Busana Muslim September 17, 2008

Posted by dinconomy in Tips Usaha.
add a comment

Busana Muslim, selain menjadi pakaian yang sesuai dengan tuntunan agama, namun seiring perkembangan jaman, kini mulai menjadi tren. Mulai dari jilbab, mukena, koko, hingga busana muslimah kini mulai banyak diminati masyarakat. Lantas bagaimana tips usaha berbisnis busana muslim? Berikut tips-tips yang saya ambil dari http://iguidepost.blogspot.com

1. MULAI, MULAI & MULAI.
Bisnis jangan hanya jadi gagasan berjualan busana wanita. Beranilah memulai. Tanpa dimulai, ide bisnis sehebat apapun tidak akan ada gunanya. Bisnis besar umumnya diawali dari bisnis yang kecil.
2. FOKUS PADA BISNISNYA DAN BUKAN AKSESORISNYA.
Aktifitas bisnis difokuskan bagaimana proses penjualannya terus berlangsung dengan perputaran bisnis lebih cepat daripada fokus pada aksesoris pakaian wanita yang kurang penting.
3. JANGAN TERJEBAK ASET TETAP.
Jika ada modal, jangan dihabiskan untuk hal-hal yang tidak penting. Usahakan modal digunakan untuk memperbesar modal bisnis dengan desain baju dan model baju / model pakaian terbaru.
4. GUNAKAN EFEK TORNADO.
Modal bisnis digunakan untuk memutar bisnis busana muslim atau baju muslim. Laba bisnis digunakan untuk memperbesar modal usaha pakaian muslim sehingga terjadi percepatan pertumbuhan usaha baju muslimah atau busana muslimah. Demikian seterusnya sehingga modal usaha akan berlipat dalam waktu singkat.
5. JANGAN BERASUMSI, TEMUKAN FAKTANYA.
Jangan berasumsi bisnis menjual baju wanita itu susah, marketing pakaian muslimah itu susah dan lainnya. Laksanakan dan temukan faktanya sehingga kita dapat informasi yang benar dari lapangan.
6. ATURLAH CASH FLOW DENGAN BAIK.
Bisnis adalah cash flow, sehingga atur jangan sampai kehabisan modal. Cepat lakukan penjualan dan rajin-rajinlah menagih uang jika ada tunggakan dipelanggan. Usahakan transaksi dapat dilakukan cash agar tidak kesulitan modal yang dapat menghentikan perutaran bisnis.
7. KATAHUAI KEBUTUHAN DAN KEINGINAN PELANGGAN.
Selau check kebutuhan, keinginan dan permintaan pelanggan. Sediakan kebutuhannya, jangan melawan pasar, jangan menjual sesuatu yang kurang dibutuhkan pelanggan.
8. AKTIFLAH MEMASARKAN PRODUK.
Produk yang hebat tanpa dipasarkan tidak akan ada hasilnya. Mulailah memasarkan kepada siapapun dan kenalkan produk mulai dari lingkungan terdekat, keluarga, arisan, pengajian, pameran serta event-event lainnya. Pemasaran memegang kunci keberhasilan dalam memperoleh keuntungan.
9. PILIHLAH HARGA YANG BAGUS.
Harga bagus bukan harga yang mahal, karena jika harga mahal maka barang tidak akan laku. Harga bagus bukan harga yang murah, karena dengan harga murah banya terjual dan keuntungan sangat tipis. Harga bagus adalah harga dimana kita untung dan produk laku keras. Caranya, rajin-rajinlah survei ke pesaing. Dengan demikian kita akan tahu harga yang paling pas agar produk kita dapat berkompetisi.

Competitive Advantage Juli 12, 2007

Posted by dinconomy in Tips Usaha.
add a comment

Menurut Turban, Competitive Advantage adalah an advantage over competitors in some measure such as cost, quality, or speed.

Untuk mendirikan sebuah usaha bisnis, tentunya harus ada suatu keberanian untuk menanggung risiko. Risiko ini ada yang alami (tidak bisa dimanage) ada juga yang bisa diminimalisasi. Risiko ini bisa berasal dari dalam dan dari luar perusahaan. Risiko dari dalam, misalnya: tingkat profesionalitas SDM, kondisi keuangan, kualitas dan keunikan produk, dsb. Sedangkan risiko dari luar yang paling utama adalah persaingan.

Dapat kita lihat persaingan di dunia usaha ini sangat marak. Jika kita berjalan-jalan di pasar tradisional saja, betapa banyaknya kita jumpai penjual daging dalam satu blok. Dan itu juga akan terlihat pada produk-produk yang lain.

Nah, untuk bisa terus bersaing atau meminimalisasi risiko, perusahaan harus mempunyai strategi khusus. Strategi ini dapat diterapkan dengan menciptakan nilai khusus (creating value) pada perusahaan Anda.

Analisis penciptaan nilai ini, akan lebih mudah jika kita memakai persamaan sebagai berikut:

CV = (B – P) - (P - C)

CV = Creating Value
B = Benefit
P = Price
C = Cost
B – P = Consument Surplus
P-C= Seller/Pabrikan Surplus

Rumus di atas bukan rumus matematika yang rumit, melainkan peraga untuk
memudahkan analisis adanya competitive advantage. Jika terjadi penurunan harga (P) di pasar, maka (B – P) akan lebih besar dari pada (P – C). Jadi, penurunan harga akan menambah surplus pada konsumen. Dalam hal ini, konsumen berada pada posisi yang diuntungkan. Misal; pada perang tarif operator GSM/CDMA, masing- masing mengeluarkan inovasi-inovasi baru untuk menurunkan harga produknya agar bisa menarik lebih banyak lagi pelanggan. Tentunya dengan semakin murahnya harga, konsumen sangat diuntungkan.

Jika terjadi kenaikan harga pasar (P), maka yang akan terjadi pada persamaan di atas adalah P pada masing-masing bagian akan bertambah, sehingga persamaan menjadi B – C . Apa artinya?Untuk menjadi unggul dalam persaingan maka produsen/penjual harus melakukan penekanan biaya (C) atau menambah Benefit yang bias didapat konsumen, agar nilai B – C tersebut semakin besar, dan tentunya akan membawa perusahaan anda mampu bersaing di pasar.

Strategi yang bisa dilakukan antara lain:
1. Low Cost Leadership
Penekanan biaya agar seminimal mungkin bukan berarti mengabaikan elemen2
tertentu yang penting pada produk anda.
Anda harus berprinsip pada biaya yang rendah bukan berarti kualitasnya juga rendah.
2. Rapid Responsiveness
Kecepatan di sini bukan hanya kecepatan melakukan produksi, atau melayani
pelanggan, tapi cepat juga dalam merespon inovasi2 yang dilakukan pesaing.
3. Product Differentiation
Agar laku di pasaran, produk yang anda ciptakan/jual harus unik, mempunyai nilai lebih dari produk lain.

Sebenarnya masih banyak lagi strategi yang dapat diterapkan antara lain: niche strategy ( merebut pasar kecil dengan segala keunggulan biaya, kualitas, dan kecepatan); Growth strategy, Aliiance strategy, Innovation strategy, dan sebagainya.

 

Kiat Memulai Usaha Mei 23, 2007

Posted by dinconomy in Tips Usaha.
add a comment

1. START WITH A DREAM

Mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan. A dream is where it all started : Pemimpilah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, cara pelayanan, jasa, ataupun ide yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata “tidak bisa” ataupun “tidak mungkin”.

2. LOVE THE PRODUCTS OR SERVICES

Cintailah Produk Anda. Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa-masa sulit. Enthusiastism and Persistence : Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda cinta dan keyakinan akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru.

3. LEARN THE BASICS OF BUSINESS

Pelajarilah fundamental business. BEYOND THE “BUY LOW, SELL HIGH, PAY LATE, COLLECT EARLY”: Tidak akan ada sukses tanpa ada sebuah pengetahuan dasar untuk business yang baik, belajar sambil bekerja, turut kerja dahulu selama 1-2 tahun untuk dapat mempelajari dasar-dasar usaha akan membantu kita untuk maju dengan lebih baik. Carilah Guru yang baik.

4. WILLING TO TAKE CALCULATED RISKS

Ambillah resiko. The Gaint that u will be able to achieve is directly proportional to the risk taken : Berani mengambil resiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap resiko yang akan diambil. Sebuah resiko yang diperhitungkan dengan baik-baik akan lebih banyak memberikan kemungkinan berhasil. Dan inilah faktor penentu yang membedakan “entrepreneur” dengan “manager”. Entrepreneur akan lebih dibutuhkan pada tahap awal pengembangan perusahaan, dan manager dibutuhkan akan mengatur perusahaan yang telah maju.

5. SEEK ADVICE, BUT FOLLOW YOUR BELIEF

Carilah nasehat dari pakarnya, tapi ikuti kata-kata kita. Consult Consultants, ask the experts, but follow your hearts. Entrepreneur selalu mencari nasehat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditangannya dan dapat diputuskan dengan indera ke enam-nya. Komunikasi yang baik dan kepiawaian menjual. Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kunci suksesnya. Dan kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengembangkan usaha pada fase itu.

6. WORK HARD, 7 DAY A WEEK, 18 HOURS A DAY

Kerja keras. Etos kerja keras sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard-work and smart-work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua successful start-up butuh workaholics. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan bussinessnya. Melamunkan dan memimpikan kerjanya.