jump to navigation

Aplikasi Akpem pada Kementerian BUMN September 17, 2008

Posted by dinconomy in Akpem.
add a comment

Beberapa waktu lalu (16/7), Menteri Negara BUMN mendapat penghargaan dari Pemerintah RI atas keberhasilan Kementerian Negara BUMN dalam menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2007 dengan capaian standar tertinggi dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintahan.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada pembukaan Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah di hotel The Sultan Jakarta. Kementerian Negara BUMN merupakan salah satu instansi pemerintah yang mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas Laporan Keuangan Tahun 2007. Beberapa instansi lain yang mendapat penghargaan antara lain BPK, Badan Intelijen Negara, Dewan Ketahanan Nasional, Mahkamah Konstitusi, PPATK, Lembaga Administrasi Negara, Kementerian Perumahan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Komisi Yudisial. Hal ini menunjukkan bahwa daftar intansi yang mendapat opini WTP bertambah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, meskipun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) secara keseluruhan masih disclaimer.

Pelaporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi. Akuntansi merupakan bentuk akuntabilitas dan transparansi dari setiap organisasi termasuk pemerintah. Tradisi akuntansi di lingkungan Pemerintah RI baru dimulai setelah memperoleh landasan hukum, yakni berlakunya UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan, dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Penyelenggaraan akuntansi di suatu instansi pemerintah dapat mencerminkan kualitas laporan keuangan instansi tersebut.

Penyusunan laporan keuangan adalah suatu bentuk kebutuhan transparansi yang merupakan syarat pendukung adanya akuntabilitas yang berupa keterbukaan pemerintah atas aktivitas pengelolaan sumber daya publik. Pada saat ini, Pemerintah sudah mempunyai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan (PP No. 24 Tahun 2005). Sesuai SAP, komponen laporan keuangan terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. (lebih…)

Tips Berbisnis Busana Muslim September 17, 2008

Posted by dinconomy in Tips Usaha.
1 comment so far

Busana Muslim, selain menjadi pakaian yang sesuai dengan tuntunan agama, namun seiring perkembangan jaman, kini mulai menjadi tren. Mulai dari jilbab, mukena, koko, hingga busana muslimah kini mulai banyak diminati masyarakat. Lantas bagaimana tips usaha berbisnis busana muslim? Berikut tips-tips yang saya ambil dari http://iguidepost.blogspot.com

1. MULAI, MULAI & MULAI.
Bisnis jangan hanya jadi gagasan berjualan busana wanita. Beranilah memulai. Tanpa dimulai, ide bisnis sehebat apapun tidak akan ada gunanya. Bisnis besar umumnya diawali dari bisnis yang kecil.
2. FOKUS PADA BISNISNYA DAN BUKAN AKSESORISNYA.
Aktifitas bisnis difokuskan bagaimana proses penjualannya terus berlangsung dengan perputaran bisnis lebih cepat daripada fokus pada aksesoris pakaian wanita yang kurang penting.
3. JANGAN TERJEBAK ASET TETAP.
Jika ada modal, jangan dihabiskan untuk hal-hal yang tidak penting. Usahakan modal digunakan untuk memperbesar modal bisnis dengan desain baju dan model baju / model pakaian terbaru.
4. GUNAKAN EFEK TORNADO.
Modal bisnis digunakan untuk memutar bisnis busana muslim atau baju muslim. Laba bisnis digunakan untuk memperbesar modal usaha pakaian muslim sehingga terjadi percepatan pertumbuhan usaha baju muslimah atau busana muslimah. Demikian seterusnya sehingga modal usaha akan berlipat dalam waktu singkat.
5. JANGAN BERASUMSI, TEMUKAN FAKTANYA.
Jangan berasumsi bisnis menjual baju wanita itu susah, marketing pakaian muslimah itu susah dan lainnya. Laksanakan dan temukan faktanya sehingga kita dapat informasi yang benar dari lapangan.
6. ATURLAH CASH FLOW DENGAN BAIK.
Bisnis adalah cash flow, sehingga atur jangan sampai kehabisan modal. Cepat lakukan penjualan dan rajin-rajinlah menagih uang jika ada tunggakan dipelanggan. Usahakan transaksi dapat dilakukan cash agar tidak kesulitan modal yang dapat menghentikan perutaran bisnis.
7. KATAHUAI KEBUTUHAN DAN KEINGINAN PELANGGAN.
Selau check kebutuhan, keinginan dan permintaan pelanggan. Sediakan kebutuhannya, jangan melawan pasar, jangan menjual sesuatu yang kurang dibutuhkan pelanggan.
8. AKTIFLAH MEMASARKAN PRODUK.
Produk yang hebat tanpa dipasarkan tidak akan ada hasilnya. Mulailah memasarkan kepada siapapun dan kenalkan produk mulai dari lingkungan terdekat, keluarga, arisan, pengajian, pameran serta event-event lainnya. Pemasaran memegang kunci keberhasilan dalam memperoleh keuntungan.
9. PILIHLAH HARGA YANG BAGUS.
Harga bagus bukan harga yang mahal, karena jika harga mahal maka barang tidak akan laku. Harga bagus bukan harga yang murah, karena dengan harga murah banya terjual dan keuntungan sangat tipis. Harga bagus adalah harga dimana kita untung dan produk laku keras. Caranya, rajin-rajinlah survei ke pesaing. Dengan demikian kita akan tahu harga yang paling pas agar produk kita dapat berkompetisi.

Budidaya Kelinci Australia Mei 23, 2008

Posted by dinconomy in UKM.
70 comments

Flu burung merajelela. Kalau kita nekad usaha unggas tentu rawan bangkrut. Karena itu kalau mau usaha ternak carilah peliharaan yang minim resiko, sedikit modal namun hasil menjanjikan. Usaha apa?

Kelinci Australia jawabnya. Apa tidak beresiko? Memang, bisnis apapun, apalagi berkaitan dengan urusahan nyawa pasti ada resiko. Tapi dibanding dengan unggas, kelinci lumayan aman. Itulah yang membuat usaha Sugiyono, 39 tahun, masih berjalan lancar. Selama 8 tahun, petani asal Janggleng Kaloran ini sudah membuktikan.

“Dulu saya ini bingung mau usaha apa. Pelihara kambing gagal, sapi gagal, jadi petani juga begitu-begitu saja. E, karena pengalaman yang saya dapat dari Bandungan Semarang, akhirnya saya bisa usaha ternak ini Mas, “tuturnya.

Apa benar usaha kelinci mampu menghidupi keluarganya? Bukankah banyak kelinci di desa-desa yang dipelihara petani toh tidak menjanjikan?

Rupanya peliharaan Sugi yang berjumlah 25 ekor itu bukan kelinci lokal, melainkan kelinci Australia. Badannya gemuk-gemuk, kulitnya tebal, tampangnya lucu, terlebih kelinci hiasnya.

Kelinci unggul ini biasa disebut Trewelu Ustrali. Jenis kelinci ini tergolong primadona baik untuk hias, pedaging, ternak maupun untuk kulitnya. Di daerah lain, seperti Bandungan Semarang, Lembang Bandung, jenis kelinci ini sudah lama dibudidayakan. Kelinci ini tergolong laris manis di pasar untuk berbagai kebutuhan, seperti hias, sate, atau bahkan sebatas kebutuhan bulunya untuk Jaket, Sandal, Tas dll.

Harga di pasaran Temanggung tergolong murah. Untuk usia 35 hari, alias selesai sapih hanya Rp 10.000. Kelinci ini biasanya dibeli oleh para peternak untuk dibesarkan. Tapi resiko kematian cukup tinggi mengingat kelinci tergolong hewan manja, yang tidak gampang lepas induknya. Untuk mencapai harga bagus biasanya peternak seperti Sugi memelihara sampai umur 3 bulan dengan harga Rp 80 ribuan. Sedangkan yang berumur 6 bulan, dijual Rp 150.0000.

Harga itu tergolong murah. Beberapa minggu lalu, saat penulis datang ke Kawasan ternak kelinci di Lembang Bandung, harga kelinci sehat-gemuk yang dipelihara Sugi dijual dengan harga Rp 200.000, ada juga yang mencapai Rp 225.000 sampai Rp 300.000 untuk kelinci hias.

Tapi soal harga adalah urusan pasar. Bagi Sugi, yang penting usaha. Ia tidak perlu repot menjual ke kota. Cukup menunggu tamu di rumah, dagangan laris manis. Dengan 25-30 kelinci itu rata-rata ia memperoleh hasil Rp 750.000-Rp 1.200.000. “Saya yakin bisa untung lebih banyak kalau modalnya besar. Ya ini dapat segitu sudah lumayan. Maklum, modal saya kecil,” katanya.

Di daerah Kaloran pakan untuk kelinci cukup terjamin. Kalau bosan rumput bisa berganti ampas tahu atau makanan yang lain. Agar kualitas kelinci gemuk dan sehat, maka kandang harus dipisah dengan hewan lain, dan selalu bersih. Kalau kotor dan udara lembab, kelinci biasanya stres dan penyakitan. Kalau mau sukses, manjakan hewan pendiam ini dengan pakan dan suasana yang serba nyaman. Selanjutnya, disate wae….

(Faiz Manshur)

Kemiskinan Petani Temanggung Mei 23, 2008

Posted by dinconomy in Makro.
1 comment so far

Kemiskinan menurut perspektif ekonomi adalah suatu kondisi di mana pendapatan suatu penduduk atau rumah tangga tidak mencukupi pemenuhan kebutuhan dasar, pendapatannya terlalu rendah sehingga tidak mampu berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi maupun sosial.

Dari sisi budaya, kemiskinan lebih ditentukan oleh pola perilaku masyarakat miskin, seperti pola hidup subsisten, konsumtif, dan etos kerja rendah. Sementara dari sudut pandang sosial, kemiskinan terjadi karena struktur sosial yang tidak berpihak pada orang miskin.

Petani Indonesia, kini menghadapi proses pemiskinan. Anjloknya harga gabah membuat mereka kian terpukul, karena hasil panen juga digunakan untuk menutupi biaya produksi serta sewa lahan yang kian mahal. Akibatnya, meskipun hasil panen padinya lumayan, pendapatan yang diterima petani penggarap belum mampu mengangkat mereka dari kubangan kemiskinan.

Kebijakan pangan mencakup tiga elemen pokok meliputi pasokan (supply), distribusi dan konsumsi pangan. Diperlukan berbagai upaya agar ketiga elemen tersebut dapat terintegrasi sehingga dapat menjamin kontinuitas akses terhadap kecukupan pangan bagi masyarakat yang ada di dalam suatu negara.

Kebijakan pangan diarahkan untuk mewujudkan kesejahteraan dan mendukung ketahanan pangan suatu negara. Dari sisi pasokan misalnya, salah satu instrumen kebijakan yang diterapkan adalah kebijakan harga (price policy).

Melalui Inpres No 3 Tahun 2007 tentang kebijakan perberasan, ditentukan bahwa HPP (Harga Pembelian Pemerintah) untuk beras sebesar Rp 4.000/kg dan gabah kering giling (GKG) sebesar Rp 2.600/kg.

Dalam Inpres tersebut juga diatur untuk GKG yang akan dibeli Bulog harus memenuhi syarat yaitu kadar air maksimumnya 14 persen dan butir hampa/kotoran maksimum 3 persen. Dalam praktiknya, tidak mudah bagi petani memenuhi persyaratan tersebut. Ini dikarenakan sedang musim hujan, bahkan di beberapa daerah dilanda banjir.

Globalisasi telah mengguncang sektor pertanian kita, termasuk di Temanggung. Petani tak mampu lagi memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan yang makin tinggi, memaksa petani menjual lahannya dan beralih menjadi buruh serabutan di kota-kota.

Lahan petani makin sempit, membuat petani bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Kecenderungan kemerosotan usaha tani menjelma menjadi proses pemiskinan. Sesuatu yang seharusnya bisa dicegah pemerintah, dan kenyataannya pemerintah hanya bisa diam seribu bahasa.

Para kandidat Bupati sudah siap membela nasib petani di era kapitalisme global sekarang ini? Atau justru hendak mengeksploitasi petani?

Kecap Ikan Laut Mei 23, 2008

Posted by dinconomy in UKM.
3 comments

Kebanyakan orang kalau membuat kecap mesti dari kedelai, namun Prapto, 56 tahun, yang beralamat di Manggong, Rt. 06, Rw. 01, Ngadirejo. Tumbuh kreatifnya dalam membuat kecap, karena dia bikin dari ikan laut “kedelai dan ikan sama-sama mengandung protein, dan jelas kandungan proteinnya lebih tinggi ikan laut, dan tidak perlu fermentasi,” begitu alasan yang disampaikan kepada stanplat.

Home industri kecap yang menopang ekonomi rumah tangganya ditekuni sejak tanggal tanggal 1 April 1999, wajar kalau sekarang sering digunakan praktek bagi anak-anak SMK maupun mahasiswa, “bahkan anak-anak mahasiswa dari Maluku pernah praktek industri disini”, paparnya.

Resep dalam pembuatan kecap selalu diberikan kepada semua yang membutuhkan, tanpa kwatir kalau ditiru oleh orang lain, “memberi ilmu kepada orang itu kan dapat pahala”,tuturnya dengan iklas. Walaupun usaha yang dirintisnya sudah sembilan tahun, namun dia selalu membuat, dan memasarkan sendiri, hanya dibantu istri dan anaknya.

Di dapur yang terdiri dari 3 tungku, tungku pertama untuk merebus bumbu ada jahe, laos, salam, bawang putih, sere, kayu manis dan merebus ikan laut yang sudah dipotong-potong. Pada tungku yang kedua yang letaknya lebih tinggi, untuk mencairkan gula jawa. Kalau ikan laut sudah mendidih, airnya baru dimasukkan ke tungku yang kedua (dicampur dengan gula jawa). Pada tungku ke tiga digunakan untuk mencampur gula jawa yang sudah mencair dengan bumbu.

Kalau proses sudah dijalani tinggal memasukkan dalam kemasan, lalu di jual. Nampaknya gampang kalau teorinya, namun untuk menghasilkan kecap yang warnanya baik perlu pengalaman dalam proses pembuatannya. “pernah saya buktikan sendiri ketahanan kecap ini sampai 21 bulan masih enak dan tanpa pengawet lho”, dengan bangganya Prapto memamerkan produknya.

Untuk pemasaran tidak begitu masalah, asal ada barang pasti laku. Kendala utama bagi Prapto terletak pada permodalan, “pernah lho saya dapat pesanan 100 krat tiap harinya, tapi modal tidak punya, ya tak gagalkan”, keluhnya. Kecap arum sari pernah menjangkau sampai Semarang, Weleri, dan Magelang.

Berapa pendapatannya pak? Sebentar mas, sambil duduk di meja dan menghitungnya. Ini hasil hitungan saya ini kalau sehari habis lho. Untuk bahan baku gula jawa 40 Kg @ Rp 5.000 = Rp 200.000 untuk bumbu, ikan laut dan minyak Rp 40.000. jadi totalnya Rp 240.000. sedangkan tiap harinya bisa produksi 60 botol dengan harga @ Rp 6.500 = Rp 390.000. jadi untuk laba kotornya Rp 390.000 – Rp 240.000 = Rp 150.000, sedangkan laba bersihnya masih dikurangi tenaga Rp 30.000 dan botol 30.000 jadinya Rp 90.000. Wah tinggal bayangkan saja kalau sebulan berapa ya…? (mukidi)

Dari Kurs Hingga Krisis April 10, 2008

Posted by dinconomy in Makro.
3 comments

Beberapa tahun yang lalu, pernah saya ditanya oleh seorang tetangga yang sehari-harinya nyangkul di sawah. “Kok Indonesia iki tergantung banget yo karo dollar. Nek rego dolar munggah, kabeh podo mudak seko listrik, sembako, sak kabehane lah. Kenopo Indonesia ora biso nggawe kurs dewe yo?” Waktu itu aku hanya terdiam, tidak mampu menjawab. Pikiranku langsung tertuju pada kontroversi tentang bagaimana jika Indonesia menerapkan sistem emas, atau perak yang nilainya selalu tetap.

Kompleksitas sistem pembayaran dalam perdagangan internasional semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global seperti yang berkembang akhir-akhir ini. Hal tersebut terjadi akibat semakin besarnya volume dan keanekaragaman barang dan jasa yang akan diperdagangkan di negara lain. Oleh karena itu upaya untuk meraih manfaat dari globalisasi ekonomi harus didahului upaya untuk menentukan kurs valuta asing pada tingkat yang menguntungkan. Penentuan kurs valuta asing menjadi pertimbangan penting bagi negara yang terlibat dalam perdagangan internasional karena kurs valuta asing berpengaruh besar terhadap biaya dan manfaat dalam perdagangan internasional.

Posisi penting kurs valuta asing dalam perdagangan internasional mengakibatkan berbagai konsep yang berkaitan dengan kurs valuta asing mengalami perkembangan dalam upaya mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kurs valuta asing. Konsep-konsep yang berkaitan dengan penentuan kurs valuta asing mulai mendapat perhatian besar dari ahli ekonomi terutama sejak kelahiran kurs mengambang pada tahun 1973.

Sejak saat itu kurs valuta asing dibiarkan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi variabel-variabel yang mempengaruhinya. Konsep penentuan kurs diawali dengan konsep Purchasing Power Parity (PPP), kemudian berkembang konsep dengan pendekatan neraca pembayaran (balance of payment theory). Perkembangan konsep penentuan kurs valuta asing selanjutnya adalah pendekatan moneter (monetary approach) .

Pendekatan moneter menekankan bahwa kurs valuta asing sebagai harga relatif dari dua jenis mata uang, ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran uang. Pendekatan moneter mempunyai dua anggapan pokok , yaitu berlakunya teori paritas daya beli dan adanya teori permintaan uang yang stabil dari sejumlah variabel ekonomi agregate. Hal tersebut berarti model pendekatan moneter terhadap kurs valuta asing dapat ditentukan dengan mengembangkan model permintaan uang dan model paritas daya beli.

Di Indonesia , ada tiga sistem yang digunakan dalam kebijakan nilai tukar rupiah sejak tahun 1971 hingga sekarang. Antara tahun 1971 hingga 1978 dianut sistem tukar tetap ( fixed exchange rate) dimana nilai rupiah secara langsung dikaitkan dengan dollar Amerika Serikat ( USD). Sejak 15 November 1978 sistem nilai tukar diubah menjadi mengambang terkendali ( managed floating exchange rate) dimana nilai rupiah tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan USD, namun terhadap sekeranjang valuta partner dagang utama. Maksud dari sistem nilai tukar tersebut adalah bahwa meskipun diarahkan ke sistem nilai tukar mengambang namun tetap menitikberatkan unsur pengendalian. Kemudian terjadi perubahan mendasar dalam kebijakan mengambang terkendali terjadi pada tanggal 14 Agustus 1997.Dengan kebijakan kurs mengambang ini, rupiah didasarkan pada nilai USD secara langsung. Pada waktu itu rupiah dipatok dengan nilai tetap tetapi dibiarkan mengambang dengan range tertentu. Apabila ada fluktuasi, pemerintah akan menutupnya dengan devisa. Inilah sumber “masalah” dari krisis ekonomi yang terjadi di awal tahun 1998. Kurs rupiah terhadap dollar menurun sangat drastis, jauh dari range yang telah diperkirakan sebelumnya. Akibat banyaknya hutang luar negeri , di mana kita harus membayar pokok serta bunga hutang, sumber devisa sudah tidak mampu lagi menutup jatuhnya nilai rupiah ini. Akhirnya pemerintah menetapkan kurs bebas.

Pada saat itu, kurs rupiah jatuh hingga Rp15.000,00 dari sebelumnya Rp2.500,00 per dollar. Harga BBM naik drastis, begitu juga dengan harga sembako. Sektor perbankan dan swasta banyak yang kolaps karena hutangnya membengkak, likuidasi perusahaan-perusahaan terjadi di mana-mana, seiring dengan itu, PHK melanda para tenaga kerja. Dan, krisis itu, hingga kini masih terasa menghantui. Entah sampai kapan kita menderita seperti ini.

Fahrudin

Competitive Advantage Juli 12, 2007

Posted by dinconomy in Tips Usaha.
add a comment

Menurut Turban, Competitive Advantage adalah an advantage over competitors in some measure such as cost, quality, or speed.

Untuk mendirikan sebuah usaha bisnis, tentunya harus ada suatu keberanian untuk menanggung risiko. Risiko ini ada yang alami (tidak bisa dimanage) ada juga yang bisa diminimalisasi. Risiko ini bisa berasal dari dalam dan dari luar perusahaan. Risiko dari dalam, misalnya: tingkat profesionalitas SDM, kondisi keuangan, kualitas dan keunikan produk, dsb. Sedangkan risiko dari luar yang paling utama adalah persaingan.

Dapat kita lihat persaingan di dunia usaha ini sangat marak. Jika kita berjalan-jalan di pasar tradisional saja, betapa banyaknya kita jumpai penjual daging dalam satu blok. Dan itu juga akan terlihat pada produk-produk yang lain.

Nah, untuk bisa terus bersaing atau meminimalisasi risiko, perusahaan harus mempunyai strategi khusus. Strategi ini dapat diterapkan dengan menciptakan nilai khusus (creating value) pada perusahaan Anda.

Analisis penciptaan nilai ini, akan lebih mudah jika kita memakai persamaan sebagai berikut:

CV = (B – P) - (P - C)

CV = Creating Value
B = Benefit
P = Price
C = Cost
B – P = Consument Surplus
P-C= Seller/Pabrikan Surplus

Rumus di atas bukan rumus matematika yang rumit, melainkan peraga untuk
memudahkan analisis adanya competitive advantage. Jika terjadi penurunan harga (P) di pasar, maka (B – P) akan lebih besar dari pada (P – C). Jadi, penurunan harga akan menambah surplus pada konsumen. Dalam hal ini, konsumen berada pada posisi yang diuntungkan. Misal; pada perang tarif operator GSM/CDMA, masing- masing mengeluarkan inovasi-inovasi baru untuk menurunkan harga produknya agar bisa menarik lebih banyak lagi pelanggan. Tentunya dengan semakin murahnya harga, konsumen sangat diuntungkan.

Jika terjadi kenaikan harga pasar (P), maka yang akan terjadi pada persamaan di atas adalah P pada masing-masing bagian akan bertambah, sehingga persamaan menjadi B – C . Apa artinya?Untuk menjadi unggul dalam persaingan maka produsen/penjual harus melakukan penekanan biaya (C) atau menambah Benefit yang bias didapat konsumen, agar nilai B – C tersebut semakin besar, dan tentunya akan membawa perusahaan anda mampu bersaing di pasar.

Strategi yang bisa dilakukan antara lain:
1. Low Cost Leadership
Penekanan biaya agar seminimal mungkin bukan berarti mengabaikan elemen2
tertentu yang penting pada produk anda.
Anda harus berprinsip pada biaya yang rendah bukan berarti kualitasnya juga rendah.
2. Rapid Responsiveness
Kecepatan di sini bukan hanya kecepatan melakukan produksi, atau melayani
pelanggan, tapi cepat juga dalam merespon inovasi2 yang dilakukan pesaing.
3. Product Differentiation
Agar laku di pasaran, produk yang anda ciptakan/jual harus unik, mempunyai nilai lebih dari produk lain.

Sebenarnya masih banyak lagi strategi yang dapat diterapkan antara lain: niche strategy ( merebut pasar kecil dengan segala keunggulan biaya, kualitas, dan kecepatan); Growth strategy, Aliiance strategy, Innovation strategy, dan sebagainya.

 

Pengenalan Inflasi Juni 26, 2007

Posted by dinconomy in Makro.
add a comment

Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

Indikator Inflasi :

  • Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Dilakukan atas dasar survei bulanan di 45 kota, di pasar tradisional dan modern terhadap 283-397 jenis barang/jasa di setiap kota dan secara keseluruhan terdiri dari 742 komoditas.
  • Indeks Harga Perdagangan Besar merupakan indikator yang menggambarkan pergerakan harga dari komoditi-komoditi yang diperdagangkan di suatu daerah.

Disagregasi Inflasi :

1. Inflasi Inti
Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh faktor fundamental:
– Interaksi permintaan-penawaran
– Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang
– Ekspektasi Inflasi dari pedagang dan konsumen
2. Inflasi non Inti
Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Dalam hal ini terdiri dari:

  • Inflasi Volatile Food.
    Inflasi yang dipengaruhi shocks dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, gangguan penyakit.
  • Inflasi Administered Prices
    Inflasi yang dipengaruhi shocks berupa kebijakan harga Pemerintah, seperti harga BBM, tarif listrik, tarif angkutan, dll

Determinan inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price) , dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi. Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya.

Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian.
Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan upah minimum regional (UMR).

Awal Krisis Moneter Indonesia Juni 14, 2007

Posted by dinconomy in Makro.
3 comments

Krisis yang melanda bangsa Indonesia, menjadi awal terpuruknya sebuah negara dengan kekayaan alam yang melimpah ini. Dari awal 1998, sejak era orde baru mulai terlihat kebusukannya Indonesia terus mengalami kemerosotan, terutama dalam bidang ekonomi. Nilai tukar semakin melemah, inflasi tak terkendali, juga pertumbuhan ekonomi yang kurang berkembang di negara ini.

Pada Juni 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, Indonesia memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang luar yang besar, lebih dari 20 milyar dolar, dan sektor bank yang baik.

Tapi banyak perusahaan Indonesia banyak meminjam dolar AS. Di tahun berikut, ketika rupiah menguat terhadap dolar, praktisi ini telah bekerja baik untuk perusahaan tersebut — level efektifitas hutang mereka dan biaya finansial telah berkurang pada saat harga mata uang lokal meningkat.

Pada Juli, Thailand megambangkan baht, Otoritas Moneter Indonesia melebarkan jalur perdagangan dari 8 persen ke 12 persen. Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14 Agustus 1997, pertukaran floating teratur ditukar dengan pertukaran floating-bebas. Rupiah jatuh lebih dalam. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi rupiah jatuh lebih dalam lagi karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan rupiah, permintaan dolar yang kuat. Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan September. Moody’s menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi “junk bond”.

Meskipun krisis rupiah dimulai pada Juli dan Agustus, krisis ini menguat pada November ketika efek dari devaluasi di musim panas muncul di neraca perusahaan. Perusahaan yang meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh penurunan rupiah, dan banyak yang bereaksi dengan membeli dolar, yaitu: menjual rupiah, menurunkan harga rupiah lebih jauh lagi.

Inflasi rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di negara ini. Pada Februari 1998, Presiden Suharto memecat Gubernur Bank Indonesiaa, tapi ini tidak cukup. Suharto dipaksa mundur pada pertengahan 1998 dan B.J. Habibie menjadi presidenSampai 1996, Asia menarik hampir setengah dari aliran modal negara berkembang. Tetapi, Thailand, Indonesia dan Korea Selatan memiliki “current account deficit” dan perawatan kecepatan pertukaran pegged menyemangati peminjaman luar dan menyebabkan ke keterbukaan yang berlebihan dari resiko pertukaran valuta asing dalam sektor finansial dan perusahaan.

Pelaku ekonomi telah memikirkan akibat Daratan Tiongkok pada ekonomi nyata sebagai faktor penyumbang krisis. RRT telah memulai kompetisi secara efektif dengan eksportir Asia lainnya terutaman pada 1990-an setelah penerapan reform orientas-eksport. Yang paling penting, mata uang Thailand dan Indonesia adalah berhubungan erat dengan dollar, yang naik nilainya pada 1990-an. Importir Barat mencari pemroduksi yang lebih murah dan menemukannya di Tiongkok yang biayanya rendah dibanding dollar.

Krisis Asia dimulai pada pertengahan 1997 dan mempengaruhi mata uang, pasar bursa dan harga aset beberapa ekonomi Asia Tenggara. Dimulai dari kejadian di Amerika Selatan, investor Barat kehilangan kepercayaan dalam keamanan di Asia Timur dan memulai menarik uangnya, menimbulkan efek bola salju.

Banyak pelaku ekonomi, termasuk Joseph Stiglitz dan Jeffrey Sachs, telah meremehkan peran ekonomi nyata dalam krisis dibanding dengan pasar finansial yang diakibatkan kecepatan krisis. Kecepatan krisis ini telah membuat Sachs dan lainnya untuk membandingkan dengan pelarian bank klasik yang disebabkan oleh shock resiko yang tiba-tiba. Sach menunjuk ke kebijakan keuangan dan fiskal yang ketat yang diterapkan oleh pemerintah pada saat krisis dimulai, sedangkan Frederic Mishkin menunjuk ke peranan informasi asimetrik dalam pasar finansial yang menuju ke “mental herd” diantara investor yang memperbesar resiko yang relatif kecil dalam ekonomi nyata. Krisis ini telah menimbulkan keinginan dari pelaksana ekonomi perilaku tertarik di psikologi pasar.

Apa dan Bagaimana PKBL? Mei 23, 2007

Posted by dinconomy in Peluang Usaha.
8 comments

Kita tahu bahwa negeri kita mempunyai sumber daya alam yang melimpah. Namun, kekayaan itu tidak bisa kita nikmati sepenuhnya. Mayoritas dari masyarakat adalah buruh bahkan banyak yang menganggur. Ada salah satu sebab, yaitu pilihan atau keadaan. Pilihan karena kita tidak mempunyai kemauan berusaha, atau keadaan di mana kita sudah berusaha namun belum berhasil. Oleh karenanya, sebagai masyarakat yang ingin maju, kalau tidak mencari pekerjaan ya menciptakan pekerjaan. Menciptakan pekerjaan inilah alternatif paling prospektif serta didukung oleh pemerintah melalui UKM.

“Indonesia, adalah sebuah paradoks negeri yang merdeka sejak 61 tahun lalu, berpenduduk 238 juta jiwa, terbesar keempat di dunia, dengan kekayaan alam yang luar biasa, namun belum menghasilkan SDM yang berkualitas. Dari ratusan juta jiwa penduduk tersebut, 19,8 juta adalah keluarga miskin. Oleh karenanya, kita sebagai BUMN, petugas yang diberi amanah untuk menyalurkan PKBL yang merupakan bagian dari corporate social responsibility bertugas dan bertanggung jawab untuk mengurangi angka pengangguran tersebut”. Begitu sambutan dari Meneg BUMN Sugiharto dalam rapat kerja PKBL antara BUMN dengan Kementerian Negara BUMN (6/10).Ada tiga kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang usahawan; modal usaha, skill berproduksi/operasi, dan pemasaran.

Bagi masyarakat yang mengalami kendala modal, dan sulitnya mengakses dana dari bank, ada satu solusi dari BUMN untuk mengembangkan UKM yaitu Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Program ini merupakan partisipasi BUMN untuk memberdayakan dan mengembangkan kondisi ekonomi, sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Program kemitraan merupakan kerjasama BUMN dengan unit usaha kecil dan menengah (UKM) untuk menjadi tangguh dan mandiri, sementara bina lingkungan merupakan bentuk kepedulian BUMN untuk pemberdayaan sosial masyarakat.

Dana Program Kemitraan (PK) diberikan dalam bentuk pinjaman untuk modal kerja, pinjaman khusus dan hibah. Dana ini bersumber dari penyisihan laba BUMN setelah pajak sebesar 1%-3% dan dari dana lain seperti jasa giro, dan bunga pinjaman. Untuk mendapatkan dana ini UKM calon mitra harus mengajukan proposal terlebih dahulu ke BUMN pelaksana terdekat. Untuk wilayah Temanggung, BUMN pelaksana ada di Semarang dan Jogjakarta. Calon mitra binaan menyampaikan rencana penggunaan dana pinjaman dalam rangka pengembangan usahanya kepada BUMN pembina.

Calon mitra binaan harus mengajukan surat permohonan pinjaman disertai rencana pengembangan usaha. Surat permohonan/proposal ini berisi:

  1. Kondisi perusahaan saat ini, meliputi: Data perusahaan (Badan usaha/ koperasi/perorangan/CV); Uraian Usaha: jenis usaha (perdagangan, pertanian, peternakan, kerajinan, industri, dsb., tempat usaha, dan ijin usaha (jika ada); Stuktur organisasi dan jumlah tenaga kerja; Produksi, sarana dan prasarana, bahan baku; Daerah pemasaran dan omset per bulan/tahun; Laporan Keuangan, meliputi laba rugi, neraca dan catatan.
  2. Bantuan yang diharapkan dan rencana pengembalian pinjaman;
  3. Keadaan yang diharapkan setelah mendapat bantuan;
  4. Rekomendasi dari instansi terkait (Dinas Pertanian atau Perindag setempat).

Setelah proposal disampaikan, pihak BUMN terkait akan melakukan evaluasi dan seleksi atas permohonan tersebut. Beberapa BUMN di wilayah Semarang dan Jogja bisa diakses di http://www.bumn.go.id

Fahrudin